Dikaiosune

 

Dalam Konteks Perjanjian Lama  dikaio,w  berarti membenarkan (justify)  dalam  bahasa Ibrani = tsadaq, Yunani = dikaioo/)  adalah istilah hukum, artinya:  ‘membebaskan dari tuntutan, menyatakan benar atau tidak bersalah’;  lawannya ialah ‘menghukum, menyatakan salah’ (Ul. 25:1;  Ams. 17:15;  Rom. 8:33).  Membenarkan seseorang adalah hak hakim.  Dalam Alkitab Allah disebut “Hakim segenap bumi (Kejadian 18:25) dan perlakuan-Nya terhadap manusia terus-menerus diterangkan dalam istilah-istilah hukum.  Keadil-benaran, yaitu kesesuaian dengan hukum-Nya itulah yang diinginkan Allah dari manusia, dan Ia menyatakannya dengan pembalasan kepada orang yang tidak melakukannya (Maz. 7:9, 10,12;  Yes. 5:16;  10:22;  Kis. 17:31.  Kata  dikaioo bisa dipusatkan pada kedua kehendak Allah ini, misalnya dalam Yesaya 45:25;  50:8.

Dalam Konteks Perjanjian Baru,    penggunaannya dikaio,w sebagai berikut:

  1. To exercise righteousnes’

Why. 22:11, …. Barangsiapa yang benar, biarlah dia terus berbuat kebenaran.”

  1. To vindicate God,

Luk. 7:29;  “….Seluruh orang banyak mendengar perkataan-Nya….mengakui perkataan-Nya.” (bandingkan Matius 11:19)

  1. To justify oneself

Luk. 10:29 ,  “….Tetapi untuk membenarkan dirinya, orang itu berkata kepada Yesus:

(bandingkan  16:15)

 ‘Dikaioo/’  menurut Paulus:

  1. Rom. 8:33, “….Allah yang membenarkan mereka?”

Mat. 12:37, “….menurut ucapanmu, engkau akan dibenarkan.

  1. Untuk menjelaskan akan keselamatan

Gal. 3:8, “…dan Kitab Suci yang sebelumnya mengetahui bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi karena iman (bdk: 2:16; 3:24; Rom. 3:24;  Kis. 13:39).

Signifikansi Teologis dapat dikatakan  bahwa  Paulus sangat jelas mengungkapkan tentang  dikaiou/snai yang semula berarti penghukuman.  Tetapi ini bukan akhir segalanya, karena pembenaran dari penghakiman yang dialami oleh orang-orang percaya dalam Kristus.

Dikaioz

Kata  dikaioz (righatous, just) ditemukan sebanyak 79 kali dalam Perjanjian Baru, yaitu 17 kali dalam Matius, 11 kali dalam Lukas dan 10 kali dalam Surat Paulus (7 kali di Roma,  1 kali di Galatia, dan 2 kali di Filipi).[2] 

Dalam Perjanjian Lama[3]:                  

Istilah Ibrani untuk ‘membenarkan’ adalah hitsdik, yang dalam sebagian besar pemakaiannya secara ‘yuridis’  memberitahukan bahwa keadaan seseorang selaras dengan tuntutan hukum (Kel. 23:7;  Ul. 25:1;  Ams. 17:15;  Yes. 5:23).  Bentuk piel tsiddet sering menggambarkan arti yang sama (Yeremia 3:11;  Yeh. 16:50,51).  Dengan demikian arti kata-kata itu amat bersifar hukum.  Alasan pemaknaan:

  1. Berdasarkan antonim dari kata itu, misalnya ‘hukuman’ (Ul. 25:1;  Ams. 17:18;  Yes. 5:23).
  2. Dari istilah korelatif yang ditempatkan berhadapan dengannya mengandung arti suatu proses pengadilan (Kej. 18:25;  Maz. 143:2).
  3. Dari pernyataan yang setara dengan kata itu yang  kadang-kadang juga dipakai (Kej. 15:6;  Maz. 32:1,2)
  4. Dari kenyataan bahwa ayat-ayat seperti Ams. 17:15 menuntut arti demikian.

Jika kata itu diterjemahkan:  “menjadikan benar”, arti dari ayat diatas kemudian menjadi:  Orang yang secara moral membenarkan orang fasik.  Ini adalah kekejian bagi Allah/amarah Allah.  Akan tetapi, bahkan juga dalam hal ini artinya bukan “menjadikan baik atau kudus” tetapi lebih berarti “mengubah keadaan sehingga manusia dapat dianggap benar.”

Dalam Perjanjian Baru:

Dalam Alkitab, Allah disebut sebagai Hakim segenap bumi dan tindakan-tindakan-Nya terhadap manusia terus menerus diterangkan dalam istilah hukum.  Kata ini merupakan sebuah tindakan yang sesuai dengan hukum Allah yang diinginkan Allah dari manusia dan Ia menyatakan kebenaran-Nya sebagai hakim.  Sebagai hakim, Allah adalah dikaioz.[4].  Penggunaan dalam Perjanjian Baru  sebagai berikut:

1.      Dalam konteks Yunani dan Hellenis.  Ketika istri Pilatus mengatakan Yesus sebagai  dikaioz dalam Matius  27:19, yang berarti bahwa Yesus seorang yang tidak bersalah.  Dia adalah orang yang  benar.  Hal ini sama dengan pernyataan Pilatus dalam Matius 27:24  a.tw/|o,z ei,mi a,po. tou/ ai/matoz dikai/oo tou, tou.  Pernyataan ini juga tepat bahkan dipertegas lagi dalam Lukas 23:47 seperti juga oleh penjelasan Herodes dalam Yohanes dengan pernyataan a.nh.r di,kaioz dai a[gioz (Markus 6:20).  Pengertian “orang benar” adalah orang yang tidak berdosa (Filipi 4:8).

  1. Secara Konteks dikaioz dalam Perjanjian Baru sebagian besar ditentukan  oleh Perjanjian Lama.  Ketika Allah menyebut dikaioz pada pengertian dasar dari penghakiman terlihat lebih khusus dalam Wahyu. Bahasa yang dipakai umumnya dari Perjanjian Lama (Wahyu 16:5) dan sumber perkataan Dia sebagai dikaioz dalam Wahyu 16:7;  19:2.  menurut I Petrus 2:23, “…ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan caci maki;  ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi  dengan adil.”  Pernyataan yang sama dikaioz berarti keadilan/kebenaran  antara menghakimi dan menyelamatkan.  Kebenaran secara menyeluruh adalah dengan kematian Kristus sebagaimana yang Allah nyatakan bahwa Yesus adalah dikaioz.
  2. Ketika dikaioz diaplikasikan sebagai seorang Mesias, digunakan pertama dalam Kis. 3:13;  7:52 yang menjelaskan tentang kesalehan Yesus dalam penggenapan kehendak Allah.
  3. Dikaioz digambarkan dalam Perjanjian Lama (Habel:  Mat. 23:35;  Ibr. 1:14;  I Yoh. 3:12) dan orang benar dari Perjanjian Lama (Lot:  II Pet. 2:7,8) yaitu seorang yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tidak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja.  Kadang hubungan kita dengan Allah dapat digambarkan seperti dalam ayat Lukas 1:6, dengan menyebut Zakharia dan Elisabet;  dalam Luk. 2:25 menyebut  tentang Simeon;  Kis. 10:22 menyebut tentang Kornelius.
  4. Dikaioz juga dapat digunakan terhadap kehidupan orang Kristen, dikaioz dalam Matius 10:41, “….Barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar.”

Matius 13:49,”…. Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar.” Dikaioz dari orang ponhroi akan terpisah sebagai orang Kristen. Dikaioi dalam penghakiman terakhir dalam Matius 25:37,46,  “….tetapi orang benar ia dalam hidup yang kekal.[5]

 

Dikaiosu,ne [6]

Dikaiosu,ne (righteousness, justice) alam Perjanjian  Baru Dikaiosu,ne berarti penghakiman dari Allah melalui kedatangan  Tuhan Yesus yang kedua kalinya (Kis. 17:31;  Why. 19:11);  bandingkan juga Wahyu dari retribusi kebenaran oleh Kristus dalam Markus 16, atau II Petrus 1:1 dimana Allah adalah  pelindung umat-Nya.  Kita  memiliki contoh lain dari  kitab Ibrani 11:33, dimana h,rhasanto dikaiosu,nhn.

Dikaiosu,ne menurut Paulus[7]:

  1. Sudut pandang dan pesan Paulus akan pembenaran dapat dilihat dalam Roma 9:30;  10:5.
  2. Pengertian Paulus dalam penggunaan kata Dikaiosu,nen qeuo dan pengertian doktrin pembenaran.

Menurut Paulus kebenaran itu adalah Allah sendiri;  juga menggambarkan kerajaan-Nya seperti hidup baru sebelum menjelang penghakiman terakhir.

–  The Whole of Humanity

Roma 1-3  menunjukkan bahwa Dikaiosu,nen qeuo tidak hanya berupa  kejadian/pengalaman pribadi seseorang, tetapi secara supreme mengacu  kepada Keilahian Kristus.

–  Menunjukkan akan pekerjaan Allah “ Sebab orang benar akan hidup oleh iman” (Rom. 1:17, 19; 3:21-22;  3:25)

–  Berpusat pada Salib Kristus  (Rom. 3:24-25;  5:9;  Gal. 3:13).

–  Allah menunjukkan pembenaran sesuai rencana-Nya (Rom. 3:25).

–  Pembenaran dalam penghakiman  (II Kor. 3:9;  11:15).

–  Hubungan dengan terminologi, sangat penting bagi Paulus bukan hanya sekedar membicarakan pengampunan, tetapi oleh pengertian Dikaiosu,nen qeuo memberikan pengampunan dengan dasar yang tepat.

–  dikaiosu,ne dan iman.  Bahwa hanya dengan iman seorang diselamatkan.

–  dikaiosu,ne seperti satu pengharapan.  Keselamatan sekarang mengarah pada keselamatan yang akan datang, yaitu bahwa pembenaran adalah anugerah.

–  Pembenaran dan Mysticims (I Kor. 6:12;  Rom. 3:2,5)

–  dikaiosu,ne adalah kuasa dari hidup baru (Rom. 5:12-21)

Bagi Paulus dikaiosu,ne memiliki  hubungan yang erat dengan peristiwa keselamatan yang secara historis terletak pada kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus.  Sejalan dengan PL dan tradisi Yahudi Paulus melihat bahwa kebenaran bukan hanya sebagai atribut etikal Allah atau manusia, melainkan  suatu karakteristik Allah yang esensial dalam hubungan antara Allah dengan manusia.[8]

 

Hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bagi Pemikiran Paulus

Dasar utama ajaran Paulus tentang keselamatan adalah pembenaran. Kepercayaannya tentang pembenaran adalah sumber yang memancarkan pandangannya tentang agama Kristen sebagai agama sedunia yang mengajarkan kasih karunia dan iman (Rom. 1:16;  3:29;  Bdk: Gal. 3:8-14,28).  Istilah pembenaran inilah yang menjadi pegangannya dalam menerangkan makna penyelamatan dari ketaatan dan kematian Yesus Kristus (Rom. 3:24;  Gal.3:13;  Ef. 1:7) dan pendamaian (II Kor. 5:18), menerangkan keterikatan dalam hubungan  perjanjian (Gal. 3:15),  iman (Rom. 4:23;  10:8),  menerangkan kesatuan dengan Kristus         (Rom. 8:1;  Gal. 2:17), menerangkan pengangkatan menjadi anak Allah (Rom. 8:10;  Gal. 4:6-8) dan menerangkan  rasa kepastian Kristen (Rom. 5:1-11;  8:33).

Bagian pembenaran inilah yang  menjadi pegangannya dalam menerangkan segala syarat, nubuat dan contoh-contoh keselamatan dalam Perjanjian Lama.

–          Rom. 1:17;  Gal. 3:11 mengutip Hab. 2:4

–          Rom. 9:22-10:21 mengutip Hos. 2:23;  1:10;  Yes. 8:14;  Yl. 2:32;  Yes. 65:1

–          Rom. 11:26 mengutip Yes. 59:20

–          Gal. 3:8 mengutip Yes. 59:20

–          Gal. 3:8 mengutip Kej. 12:3

–          Gal. 4:21 mengutip Kej. 21:10.

 

Konsep Paulus tentang Pembenaran[9]

Dari 39 kata kerja ‘membenarkan’ dalam Perjanjian Baru , 29 di antaranya terdapat dalam surat-surat dan ucapan Paulus, begitu juga kedua nas yang mengandung kata benda terkait, yaitu dikaiosiz (Rom. 4:25;  5:18).  Hal ini menjelaskan bahwa hanya Paulus dari para penulis Perjanjian Baru yang membuat pengertian pembenaran menjadi dasar ajarannya tentang penyelamatan manusia.  Bagi Paulus membenaran berarti:  “Tindakan Allah untuk menghapus dosa orang bersalah, dan memperhitungkan dia benar-ini tindakan bebbas dari pihak-Nya-bukan berdasarkan kebajikan orang itu, tapi karena Yesus menumpahkan darah-Nya demi orang itu, yang dilakukan-Nya demi penggenapan Hukum Taurat  untuk mewakili dan untuk menyelamatkan dia (Rom. 3:23-26;  4:5-8;  5:18, dst).  Ajaran Paulus mengenai pembenaran adalah  caranya yang khas merumuskan inti dari Injil, yaitu bahwa Allah mengampuni orang berdosa yang percaya.  Bagi Paulus pembenaran Allah adalah pemberian berkat asasi, sebab pembenaran itu menyelamatkan orang dari masa lampau dan menjamin keamanannya di hari depan.  Pada satu pihak, pembenaran berarti pengampunan, dan akhir permusuhan Allah dengan kita sendiri (Kis. 13:39;  Rom. 4:6; 5:9).  Pada pihak lain, dibenarkan berarti diterima Allah dan diberi hak memperoleh semua berkat yang dijanjikan Allah kepada orang yang dibenarkan, suatu pikiran yang dilambangkan Paulus dengan menghubungkan pembenaran dengan pengangkatan menjadi anak Allah dan hak alhi waris (Galatia 4:4;  Rom. 8:14).  Kedua segi itu tampil dalam Roma 5:1-2, Paulus berkata bahwa pembenaran  membuahkan dua macam pemberian yaitu damai dengan Allah karena dosa telah dihapuskan, dan pengharapan dan kemuliaan Allah karena orang berdosa sudah diterima sebagai orang yang adil-benar.

 

 

Acuan dan Signifikasi Teologis.

Pengungkapan dari pembenaran  secara teologis adalah bahwa Injil mengungkapkan kebenaran Allah.  Ucapan ini  menunjukkan dua hal:

  1. Kedudukan manusia yang dijadikan benar
  2. Kedudukan yang dikaruniakan secara bebas kepada orang berdosa yang percaya melalui Kristus (karunia kebenaran  dalam Roma 5:17;  3:21;  9:30;  10:3-10;  band:  II Kor. 5:21 dan Fil. 3:9);  dan cara yang dipakai Injil untuk menyatakan bahwa Allah melakukan apa yang adil, yaitu tidak hanya menghukum orang durhaka, seperti yang layak diterimanya, tapi menggenapi janji-Nya untuk memberi keselamatan kepada Israel.  Allah menjadikan orang berdosa sedemikian rupa sehingga tuntutan-tuntutan hukum atas mereka sekaligus terpenuhi juga (Rom. 3:25).

Maka kebenaran Allah terutama merupakan pengertian hukum yang  menunjuk kepada pekerjaan Allah karena kasih karunia-Nya, yang memberikan kepada orang berdosa pembenaran yang adil, yang membebaskan mereka dari segala tuduhan dalam pengadilan surgawi, tanpa mengurangi sifat keadilbenaran-Nya sebagai Hakim mereka. Kebenaran  Allah sifatnya hakiki dalam ikatan perjanjian (covenant)  dengan umat-Nya.  Kebenaran Allah dinyatakan melalui fakta bahwa tujuan Allah tidak digagalkan oleh keberdosaan manusia.  Dia tetap adalah Allah  dan Jurselamat walaupun manusia memberontak terhadap Dia[10].

Dari semula Allah bertujuan melingkupi seluruhnya dalam mengatur sejarah dunia sejak Adam jatuh ke dalam dosa, adalah membimbing orang berdosa ke pembenaran oleh iman.  Allah menghadapi umat manusia melalui dua oknum, sebagai yang mewakili-Nya, yaitu manusia pertama, Adam, dan manusia kedua, atau Adam yang terakhir yaitu Kristus (Rom. 5:12;  I Kor. 15:45).  Manusia pertama karena pendurhakaannya, membawa penghukuman dan kematian bagi seluruh umat; manusia kedua, karena ketaatan-Nya menjadi sumber pembenaran dan hidup bagi semua orang beriman (Rom. 5:16).  Melalui kematian-Nya dihapuskan-Nya dosa mereka (Rom. 3:25;  5:9).  Melalui ketaatan-Nya kepada Allah, Kristus memenangkan seluruh umat-Nya (5:19) sehingga semua orang beroleh pembenaran untuk hidup (Rom. 3:10).  Orang percaya yang telah mati bersama Kristus  dan sekarang  kita telah dibenarkan (Rom. 6:7), maka kita hidup kini adalah untuk Allah (6:11),  yaitu menjadi ‘hamba kebenaran’.  Dari sini kita melihat bahwa disamping efek soteriologis, maka konsep dikaiosu,nh memiliki aspek etis, yang artinya bahwa kita sebagai orang percaya hidup sesuai pembenaran yang telah kita terima.  Dan karena pembenaran tersebut dari Allah, maka kitapun harus memenuhi standar dan kualitas yang telah ditetapkan Allah sebagai sumber kebenaran.

Pengharapan ini bersifat pasti, sebab pembenaran bermakna eskatologis.  Pembenaran  adalah hasil penghakiman dari hari kiamat yang dibawa ke masa sekarang ini, suatu kepstian hukum yang final dan yang tak dapat diubah.  Maka selaras dengan itu orang yang sudah dibenarkan boleh pegang dengan pasti, bahwa apapun takkan bisa menceraikan dia dari kasih Allah (Rom. 8:33-39;  5:9).  Bahwa dia akan dimuliakan (Rom. 8:30).  Pemeriksaan yang akan datang di hadapan takhta pengadilan Kristus (Rom. 14:10; II Kor. 5:10).

 

 

Kesimpulan

·         Kristus di dalam kita adalah kebenaran kita

 (I Korintus 1:30, bandingkan Rom. 5:8

II Korintus 5:17:  “Korban perdamaian melalui Kristus

·         Roma 2:13

“benar” = melakukan hukum

ini disebabkan karena pembenaran itu sudah diterima dalam iman kepada Tuhan Yesus bukan karena kekuatan sendiri  (bandingkan Roma 10:3).

  • Karena kita adalah orang yang dibenarkan Allah sebagai “kebenaran” maka kitapun harus hidup sebagai orang benar dalam tindakan dan perbuatan kita, yaitu hidup yang berbuah dalam Roh Kudus (Gal. 5:22-25).

 

 

DAFTAR  PUSTAKA

Berkhof,  Luois,  “Doktrin Keselamatan” Teologi Sistematika, Jakarta:  Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997.

Brown, Colin,  The New International Dictionary of New Testament Theology Vo. 3, Carlisle:  The Paternoster Press, 1992.

 Dauglas, J. D., Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta:  Yayasan Bina Kasih/OMF, 1995.

Kittel, Gerhard, Theological Dictionary of the New Testament, Translated by Geoffrey W. Bromiley,  Grand Rapids:  W.M. B. Eerdmans Publishers Company,  1973.

Kertelge, K,  Exegetical Dictionary of New Testament vol. 1, ed.  Horst Balz & Gerhard Schneider, Grand Rapids:  WM B. Eerdmans, 1990.

Morrison, Clinton,  An Analytical Corcondance to the Revised Standard Version of the New TestamentPhiladelphia:  The Westminster Press, 1973.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[1] Gerhard Kittel, Theological Dictionary of the New Testament, Translated by Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids:  W.M. B. Eerdmans Publishers Company)  203

[2] K. Kertelge, “dikaiosuve” Exegetical Dictionary of New Testament vol. 1, ed.  Horst Balz & Gerhard Schneider (Grand Rapids:  WM B. Eerdmans, 1990) 324

[3] Luois Berkhof,  “Doktrin Keselamatan” Teologi Sistematika jol. (Jakarta:  Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1997) 217

[4] K. Kertlege, EDNT, hal 325.

[5] K. Kertelge, “dikaiosuve, 189

[6] Gerhard Kittel,  Theological Dictionary of the New Testament, Translated by Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids:  W.M. B. Eerdmans Publishers Company);  Clinton Morrison,  An Analytical Corcondance to the Revised Standard Version of the New Testament (Philadelphia:  The Westminster Press, 1973) 487.

[7]  Dauglas, J. D.,   Ensiklopedi Alkitab Masa Kini (Jakarta:  Yayasan Bina Kasih/OMF, 1995) 171.

8  K. Kertelege, EDNT.  Hal 327.

[9] J.I. Packer et. Al.,  “Pembenaran” Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, ed., J.D. Dauglas (Jakarta:  Yayasan Bina Kasih/OMF) 171.

[10] H.  Seebass, “Righteousness”  The New International Dictionary of New Testament Theology Vo. 3, ed.  Colin Brown (Carlisle:  The Paternoster Press, 1992)  364.

 

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s