Orang Roma dan Kehidupan Sosialnya

ITALY-ROME-ANNIVERSARY-PARADE

Orang  Roma hidup dalam dunia tata tertib dan upacara.  Terlebih –lebih, orang Roma adalah penjujung adat, yang hanya mau menerima  perubahan dengan menggerutu sedangkan perubahan dalam kehidupan sosial dan rumah tangganya dia tolak sama sekali.  Maka dari itu, meskipun Roma berubah dari negara kota menjadi kekaisaran raksasa, rakyatnya tetap mempertahankan adat dan kebiasaan lama.  Sejarah Roma kuno dan awal kekaisaran yang kokoh, merupakan sudut pandang yang baik untuk  mrngamati cara hidup orang Roma dan kekuatan yang memberi bentuk pada kegiatan serta pada nilai-nilainya.  Sedikitnya orang dapat melihat cara hidup salah satu klas orang Roma; tetapi kekhasan sejarah kuno ialah bahwa hampir seluruh informasi tentang kehidupan sosial berbicara tentang klas atas.

Meskipun semua warga negara  Romawi berkedudukan sama tinggi di hadapan hukum, di antara mereka ada perbedaan tingkat sosial yang tajam.  Pendidikan, perkawinan, tugas militer dan karier orang Roma-malahan hiasan pakainnya- mencerminkan status sosialnya.  Garis-garis klas kadang kala menjadi kabur dan selama perjalanan zaman  berulang kali mengalami penegasan tetapi halangan di antaranya tetap ada.

 Pada abad ke-1,  berkembanglah tiga macam golongan masyarakat di kalangan orang Roma merdeka.  Klas atas terdiri dari para pemegang jabatan turun-temurun, yaitu kaum bangsawan, serta beberapa rakyat jelata yang berepengaruh.  Kemudian ada golongan kaum penunggang kuda – atau tepatnya, ksatria – yang kebanyakan adalah pengusaha.  Rakyat jelata – bersama orang-orang merdeka, yang tidak mempunyai hak penuh sebagai warga begara – merupakan kelompok rakyat yang paling besar. (Hados Moses,  1965, 79)

Baik dalam pengertian sosial maupun hukum, keluarga adalah  satuan dasar masyarakat Romawi; orang Roma beranggapan   bahwa  hubungan perkerabatan sangat penting.  Pada masa awal Republik kepala keluarga, atau pater familias, mempunyai kekuasaan sah yang menyebabkan  seluruh rumah tangga benar-benar  menjadi miliknya.  Berabad-abad kemudian kewibawaanya tetap diakui sungguhpun jarang digunakan.

Penting pula dicatat  bahwa dalam masyarakat yang memandang keluarga sebagai pusat kegidupannya ini, nama buruk  yang ditimbulkan oleh anak tidak sah lebih menyangkut kehidupan sosial daripada hanya kehidupan susila; anak yang tidak diakui tidak mempunyai kewajuban setia terhadap suatu keluarga sehingga tidak mendapatkan tempat penuh di dalam masyarakat.

Pada tahun-tahun permulaan, di Roma tidak terdapat pendidikan campuran; anak lelaki dan perempuan  memperoleh macam pendidikan  yang berbeda.  Ini tidak menyiratkan bahwa perempuan Roma kurang terpelajar daripada suaminya; malahan sebaliknya, mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk memperoleh pendidikan, dan mereka menggunakan pendidikan itu sebaik mungkin.  Sepanjang hidupnya, Roma yang terpelajar terus memperluas pengetahuan dengan banyak membaca. Meskipun terhormat, pengetahuan tidak banyak menunjang keberhasilan dalam karier seseorang.  Memang disamping bidang politik, hukum, ketentaraan dan pertanian, tidak banyaklah pekerjaan yang dianggap layak bagi priayi Roma.  Kecuali oleh keluarga dan klas, semua orang Roma selain budak terikat oleh hubungan lain yang tidak ada persamaannya dalam masyarakat modern.

Beban perbudakan merupakan masalah derajat.  Nasib budak agak membaik ketika Roma berkembang dari bentuk Republik menjadi kekaisaran, tetapi beberapa klas budak tertentu tetap sengsara hidupnya. Budak pekerja bangunan atau penggali tambang adalah yang paling menderita.  Klas atas hanya mencakup sebagian kecil masyarakat.  Klas ini berada di puncak masyarakat perbudakan yang berkali-kali besar.

Perkembangan dan kemajuan Roma berlangsung selama satu dasawarsa penuh; selama waktu itu Roma membangun kekaisaran paling besar yang pernah disaksikan dunia.  Namun luas kekaisaran dan kemantapannya bukanlah didasarkan pada berulangkalinya Roma mrnyatakan bahwa dirinya besar, melainkan yang lebih abadi terletak pada kejeniusan Roma dalam memupuk dan memperluas serta menyebarkan prestasi kebudayaan dan pemikiran dunia . arsitektur, seni, sastra dan agama Romawi mempelihatkan pengaruh Yunani seratus persen melambangkan kekuasaan dan ketegasan Roma.

Peninggalan yang bukan fisik dan lebih penting adalah kenyataan bahwa dalam mengubah dunia yang terpecah belah menjadi satu kekaisaran,  Roma membangun pola untuk lembaga pemerintahan, kemerdekaan pribadi dan ketaatan terhadap hukum  yang  kini masih berlaku.

Di seluruh  kekaisaran orang-orang  provinsi yang berbakat mendapatkan pangkat; beberapa penulis besar dan kaisr paling abaik adalah orang provinsi.  Tidak semua sekolah terbaik  kekaisaran berada di Roma; sekolah Gallia dengan kurikulum Latinnya, akhirnya melebihi sekolah yang ada di Roma sendiri.  Roma menurut upeti dari Kekaisarannya, tetapi Roma pun memberikan banyak imbalan: penegakan hukum dalam wilayah kekaisaran, perlindungan terhadap serbuan orang  barbar dari luar, pertukaran barang dan hasil yang segera dapat dijalankan, toleransi terhadap perbedaan yang tak terelakkan di bidang kebudayaan dalam wilayah kekuasaan yang luas.  Yang terpenting, Roma menanamkan kepada semua orangnya  untuk percaya  dan mendukung Roma  yang Kristen.

Karena peristiwa itu terjadi jauh di masa lalu,  kita hanya dapat berspekulasi tentang jawaban akhir atas pertanyaan ini :  Apa yang membuat orang Roma  menjadi bangsa yang berprestasi ? Sampai pada tingkat tertentu, kita  dapat menganalisis pengaruh yang membentuk kepribadian orang Roma dan menjadikannya penguasa dunia.  Tentu saja, sejarah awal Roma memainkan peranan penting.  Orang Roma yang paling awal adalah petani yang tinggal di tanah gersang.  Maka mereka terikat sekali pada tanahnya dan tak peduli bahwa di kelak kemudian hari Roma akan menjadi kota besar.  Dari leluhur cikal bakal mereka, orang Roma mewarisi kebajikan   yang sederhana , setia, tekun,  serta ulet.

Sifat  berbobot, yakni ugahari, monumental dan langgeng inilah yang menandai kepribadian orng Roma, sistem pemerintahannya, dan, tentu saja, semua yang mempunyai cap Romawi.  Menjadi orang kuat dan sekaligus berwibawa merupakan cira-cita orang Roma.  Bila mengenakan pakaian toganya yang panjang, orang Roma keturunan baik-baik tak akan pernah memberikan kesan terburu-buru.  Ia senantiasa tampak anggun, selalu sadar akan  pemirsanya, yang nyata atau khayal.  Karena nostalgia ia selalu ingat akan leluhrnya yang terkemuka, dan merasa wajib menyamai leluhur tadi dalam setiap tindakannya.

Pameran dan upacara melimpah ruah dalam kehidupan orang Roma, baik kenegaraan maupun perorangan.  Upacara keagamaan kadang kala sangat bermanfaat untuk menjembatani kesenjangan antara  perilaku ideal dan kebutuhan praktis.  Orang Roma membanggakan diri karena patokan kejujuran dan integritasnya yang tinggi.  Kalau mereka terpaksa harus melanggar peraturan ini, mereka akan bersusah payah untuk menyusun pembelaan, sekalipun mereka harus menggunakan apa yang kini disebut fiksi hukum.

Misalnya upacara kuno, yang diadakan sebelum Roma menyatakan perang, dilakukan okeh dewan khusus yang terdiri  dari imam.  Para imam ini disebut fitialles.  Dengan cara yang sangat resmi, para pejabaat ini akan mengemukakan kejengkelan Roma, yang nyata maupun khayal, kepada Negara pelanggar, dan menuntut ganti rugi.  Kalau tuntutan yang kerap berlebihan ini tidak dipenuhi, maka menurut adarnya,  fetiales tadi pergi ke perbatasan negara lain tersebut untuk memohon pada para dewa agar menyaksikan bahwa alasan orang Roma itu adil, dan kemudian melemparkan sebuah senjata ke daerah musuh sebagai tanda mulaunya permusuhan.

Karena berpendapat bahwa adat kuno merupakan cara yang paling baik, maka orang Roma membela sikap yang tidak mau berubah.  Maka menurut pandangannya sendiri, orang Roma adalah contoh pembuat dan penggerak yang jujur dan tidak sentimentil, senantiasa memperhatikan pentingnya bentuk mapan yang berpegang pada kenyataan.  Tetapi bagi generasi kemudian, dia menimbulkan matra lain dan kurang menyenangkan.   Kekerasan  yang mendarah daging pada orang Roma adalah hasil pertentangan yang berlangsung lama antara manusia dan alam.  Meskipun demikian, masih ada reputasi kebejatan moral yang tetap meodai gambaran tentang orang Roma.  Bagi orang masa kini reputasi ini merupakan  salah satu  aspek paling buruk pada kepribadian orang Roma.

Orang Roma di satu  pihak  ada sisi-sisi gelapnya, tetapi di lain pihak orang Roma memiliki kesadaran yang mendalam akan bobot keromaannya, menjunjung tinggi tata tertib, memiliki rasa sejarah dan percaya pada nasib.  Mistik keunggulan yang menyelubungi dirinya, yakni keyakinan bahwa dia adalah anggota kelompok elite yang mendapatkan mandat untuk menjadi besar dari dewa ditunjang oleh keakraban dan penghayatannya terhadap dongeng yang berisi keberanian leluhurrnya.

Untungnya,  Roma mengalami masa yang relatif bebas dari bahaya penjajahan asing selama berabad-abad.  Pada saat itu mereka dengan mantap menaklukan semenanjung Italia dan membentuk kepribadian nasional mereka.  Karena jarang mempertahankan diri melawan pasukan yang lebih kuat daripada pasukannya sendiri, maka Roma menjadi terbiasa menang dan mempunyai kepercayaan diri sangat besar.

DAFTAR  PUSTAKA

 

Beritakanlah Jilid II.  1996.  Yogyakarta:  Yayasan Adi.

 Bruce, F.F.  1999 , Ucapan Yesus yang sulit, Malang:  Seminari Alkitab Asia  Tenggara,).

 Butter, C.  Trent,  1991.  Holman Bible Dictionary.  Nashaville, Tennessee.)

 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I. 1999.  Jakarta:  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF)

 Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II. 1999.  Jakarta:  Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF)

 Hades, Moses,  dan para Editor Pustaka.  1965.  Roma Masa Kekaisaran. Abad Besar Manusia.  Jakarta:  Time Live, Tira Pustaka).

 Millard, A. R., J.I.  Packer, D.I. Wisema.  1996,  New Bible Dictionar. England, IVP)

 Oxford Ensiklopedi Pelajar Jilid I – University Press, Grolier International, INC. 1995.  PT.  Widyadara.

  The Lion Encyclopedia of The Bible, 1992.  Sidney:  A Lion Tring Batavia)

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s